Notification

×

Iklan



Iklan



Tag Terpopuler

Aru Targetkan 10 Juta Pohon Kelapa, Siap Rebut Peluang Pasar Global

Senin, 08 Juni 2026 | Juni 08, 2026 WIB Last Updated 2026-06-08T14:29:46Z


ARU,RN.ID--Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru, lewat bupatinya Timotius Kaidel melakukan terobosan melalui konsep Ekonomi hijau dengan meluncurkan Program Pengembangan 10 Juta Pohon Kelapa. Program ini tidak sekedar menanam pohon, melainkan menanam fondasi kesejahteraan. 


Kabupaten dengan julukan Bumi Jargaria, selama ini identik dengan hasil laut yang kaya namun beresiko karena kerap hasil lautnya dieksploitasi. Program ini pun menjadi tantangan bagi pemerintah kabupaten setempat agar komoditas yang dijuluki “Pohon Emas Hijau” itu dapat merubah peta ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru.  


Bupati Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, lewat rilisnya menyebutkan, ada tiga alasan mengapa program Pengembangan 10 Juta Pohon Kelapa akan membawa manfaat besar bagi masyarakat Kepulauan Aru. 


Pertama, Menjawab lonjakan permintaan pasar global. Dimana peta kuliner dunia saat ini sedang berubah. Negara-negara maju seperti Tiongkok dan kawasan Eropa, kini gila-gilaan memburu produk berbasis nabati (plant-based milk). Akibatnya, permintaan global terhadap coconut milk (santan) dan air kelapa segar melonjak drastis, memicu kenaikan harga internasional.


“Pak Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, terus mendorong hilirisasi. Artinya, daerah tidak boleh lagi sekadar menjual kopra mentah, melainkan produk olahan siap pakai. ‎Berkaca dari suksesnya Halmahera Utara yang berhasil mengekspor olahan kelapa langsung ke Tiongkok, Aru kini bersiap mengambil bagian dari kue ekonomi global tersebut,” terang Kaidel, Senin (8/6/2026). 


Alasan kedua, lanjut Kaidel, terkait gotong royong massal demi masa depan ekonomi Kabupaten Kepulauan Aru. Bahwa secara geografis, kelapa adalah tanaman super. Kelapa sangat toleran pada lahan kering, efisien air, dan tangguh menghadapi kemarau panjang tanpa irigasi rumit. 


“Target 10 juta pohon ini diproyeksikan hanya memakai 10 persen  dari total daratan Aru (sekitar 64.000 hektar), dengan fokus 80 sampai 90 persen di wilayah pesisir,” ujarnya.


Menurutnya, strategi eksekusinya pun sangat berpihak pada rakyat. Yakni pemerintah desa melalui instruksinya, membeli buah kelapa langsung dari petani setempat dengan harga subsidi untuk dijadikan bibit berkualitas. Dan setiap kepala keluarga digerakkan untuk menanam 10 hingga 20 pohon per hari. Desa-desa seperti Wangel, Selibata-bata, dan beberapa desa lainnya telah memulai dengan menanam ribuan bibit.


“Jadi kita mulai dengan hari ini, bahwa kelapa kita sudah masukan dalam program Desa Kita. Salah satu dana desa yang ada menunya itu ketahanan pangan, itu diwajibkan semua desa hari ini menanam kelapa yang sesuai dengan kapasitas lahannya. Itu sudah mulai start,” imbuhnya. 


Alasan ketiga, tambah Kaidel, adalah manfaat yang melimpah. Dimana dengan target produksi mencapai 360.000 ton per musim panen, skala raksasa ini akan memikat investor untuk membangun pabrik pengolahan langsung di Aru. 


“Tanpa ongkos kirim mahal ke Surabaya, harga kelapa di tingkat petani lokal diproyeksikan bisa melonjak dua kali lipat. ‎Kelapa disiapkan sebagai buffer stock (ekonomi alternatif). Ketika gelombang tinggi memaksa nelayan libur melaut, perkebunan kelapa di darat menjadi sumber penghidupan kedua yang stabil. Dan ini kita serius, saya sangat serius mengawal ini. Karena ini akan menjadi salah satu pendapatan masyarakat ke depan. Dan ini berkesinambungan bagi masyarakat kita,” tutup Kaidel. (*)

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update