Notification

×

Iklan



Iklan



Tag Terpopuler

Pemkot Ambon Hadiri Imlek 2577 Kongzili, Tegaskan Semangat “Ambon Par Samua”

Rabu, 18 Februari 2026 | Februari 18, 2026 WIB Last Updated 2026-02-18T16:28:38Z



Ambon,RadarNews.id--
Pemerintah Kota Ambon menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Persatuan Umat Buddha Indonesia (PD Permabudhi) Provinsi Maluku di Vihara Swarna Giri Tirta, kawasan Gunung Nona, Ambon, Selasa (17/2/2026).

Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena, dalam sambutannya menegaskan bahwa Kota Ambon merupakan kota majemuk yang harus terus dibangun dalam semangat persatuan dan kebersamaan.

“Kita menyadari sungguh bahwa Kota Ambon adalah kota yang majemuk, kota yang dihuni oleh hampir seluruh suku bangsa di Indonesia dan seluruh agama di Indonesia. Karena itu keberadaan Kota Ambon yang demikian mesti kita bangun dalam semangat kebersamaan,” ujarnya.

Menurutnya, Pemerintah Kota Ambon memaknai kemajemukan masyarakat melalui konsep “Ambon Par Samua” yang menempatkan pemerintah sebagai pihak yang harus bersikap adil bagi seluruh warga.

“Ambon Par Samua berarti pemerintah mesti berdiri dengan adil, mengambil kebijakan secara adil bagi seluruh warga kotanya. Ambon ini milik semua yang tinggal di kota ini,” tegasnya.

Komitmen tersebut, lanjutnya, diwujudkan melalui dukungan terhadap berbagai perayaan hari besar keagamaan sebagai ruang mempererat kebersamaan masyarakat. Pemerintah Kota Ambon telah memfasilitasi festival Santa Claus, Festival Jalan Salib, Festival Imlek, dan akan menggelar Festival Ramadhan.

“Semua kita fasilitasi supaya kehidupan masyarakatnya hidup bersaudara dan saling menghargai,” jelasnya.

Dalam momentum Imlek yang identik dengan festival musim semi, Wattimena mengajak masyarakat menjadikan perayaan ini sebagai waktu refleksi setelah melewati berbagai tantangan kehidupan.

“Imlek itu menggambarkan bagaimana kita melewati masa musim dingin, masa yang sulit, lalu memasuki musim semi. Kita bersyukur sudah melewati masa sulit dan berharap ada kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan di masa yang lebih baik ke depan,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti kontribusi warga Ambon keturunan Tionghoa dalam pembangunan kota, khususnya di bidang ekonomi, yang menurutnya telah menjadi bagian dari sejarah dan peradaban Kota Ambon.

“Warga Ambon keturunan Tionghoa bukan lagi warga asing di kota ini. Mereka sudah mengisi berbagai bidang di Kota Ambon dan menjadi bagian utuh dari kota ini,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Wali Kota turut menanggapi aspirasi terkait kebutuhan air bersih di kawasan sekitar vihara. Ia menyampaikan bahwa akses air bersih merupakan program prioritas Pemerintah Kota Ambon, dan pada tahun 2026 telah direncanakan upaya penyediaan sumber air bagi masyarakat di sekitar Gunung Nona, termasuk lingkungan vihara.

“Perayaan kebahagiaan tidak harus dengan pesta besar. Tetapi bagaimana kita berbagi dengan sesama, melihat keberadaan saudara-saudara kita yang kurang beruntung,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat dan jajaran pemerintah untuk mengurangi kegiatan seremonial dan lebih mengutamakan tindakan sosial yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat yang membutuhkan.

Terpisah, Pemerintah Kota Ambon terus memperkuat komitmennya menjadikan perayaan keagamaan dan budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan pariwisata daerah. Wali Kota mengingatkan bahwa sejak awal 2024, Pemerintah Kota Ambon telah menetapkan perayaan Imlek sebagai bagian dari kalender pariwisata daerah.

“Saya ingat persis pada tahun 2024, saat kita melaunching dan menetapkan perayaan Imlek sebagai salah satu kalender pariwisata Kota Ambon. Hari ini kita melihat itu terus berlanjut dan menjadi agenda tetap,” katanya.

Ia menambahkan, konsistensi tersebut menunjukkan bahwa slogan “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” bukan sekadar narasi, melainkan diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata.

Melalui Dinas Pariwisata, Pemerintah Kota Ambon sedikitnya telah mengagendakan empat event tahunan, yakni Festival Jalan Salib, Festival Ramadhan, Festival Imlek, dan Festival Santa Claus. Event tersebut dirancang sebagai atraksi budaya bernuansa religi guna memperkuat daya tarik wisata.

“Kalau hanya menjual wisata alam, itu belum tentu cukup. Tetapi jika kita menghadirkan atraksi budaya dan keagamaan, itu memberi nilai tambah bagi pariwisata Kota Ambon,” tegasnya.

Wali Kota menekankan bahwa pelaksanaan Festival Imlek bukan semata agenda hiburan, melainkan wujud keberpihakan pemerintah dalam merawat kebersamaan di tengah kemajemukan masyarakat.

“Ambon Par Samua berarti seluruh warga memiliki akses yang sama, termasuk untuk bersukacita sesuai keyakinan masing-masing. Kita ingin warga Kota Ambon memahami dan menghargai budaya serta tradisi saudara-saudara kita keturunan Tionghoa,” pungkasnya.

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update